Peringatan Arwah Semua Orang Beriman
Lebih baik berlindung pada Tuhan daripada percaya kepada manusia --- Mzm 118:8
Doa Renungan
Allah Bapa yang mahakuasa, asal dan tujuan semua yang hidup,hari ini bersama semua umat beriman, dan bersama orang-orang yang kami kasihi, dan sudah mendahului kami, kami nyatakan iman kami akan kebangkitan. Hanya dalam Yesuslah, kami menemukan hidup sejati. Hanya dengan bantuan-Nya, kami tahan dalam gelap dan derita, karena percaya akan mampu mengalahkan segala kuasa jahat untuk akhirnya hidup abadi dalam kebangkitan. Sebab Dialah Tuhan pengantara kami, kini dan sepanjang masa. Amin.
Pembacaan dari Kitab Kedua Makabe (12:43-46)
"Kami yakin bahwa orang yang meninggal dengan saleh akan menerima pahala yang indah."
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
Mazmur Tanggapan, do = d, 2/2, PS 843
Ref. Jiwaku, haus, pada-Mu Tuhan, ingin melihat wajah Allah.
Ayat. (Mzm 63:2.3-4.5-6.8-9; R:2b)
1. Ya Allah Engkaulah Allahku, kucari cari dan kudambakan Engkau jiwaku menghauskan Tuhanku laksana gurun gersang, tandus tanpa air.
2. Semoga hamba boleh memandang Tuhanku melihat kemuliaan-Mu yang besar Cinta-Mu lebih berharga daripada hidup hendaknya mulutku memuji-Mu.
3. Demikianlah sepanjang hidupku aku hendak menghormati Engkau. Jiwaku dikenyangkan dengan lemak dan sumsum, aku bersorak-sorai dan memuji-muji.
4. Jiwaku melekat pada-Mu, tangan kanan-Mu menopang aku. Sungguh Engkau melulu yang menolongku dan di bawah sayap-Mu sentosalah aku.
Pembacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada umat di Korintus (1Kor 15:12-34)
"Andaikata Kristus tidak bangkit, sia-sialah kepercayaan kita."
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
Ref. Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal.
Ayat. "Akulah yang memberi hidup dan membangkitkan orang mati, Orang yang percaya kepada-Ku akan hidup, walaupun sudah mati."
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Yohanes (6:37-40)
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!
Renungan
Saudara-saudari satu harapan, iman dan kasih,
Tanggal 1 November kemarin, Gereja merayakan Hari Raya Semua Orang Kudus.
Dan siapakah orang kudus itu? Tentunya tidak hanya orang-orang yang sudah ditetapkan atau dikanonkan sebagi Kudus oleh Paus, tetapi banyak orang lain yang telah membuktikan kesetiaan imannya dalam praktek hidupnya. Mereka itu bisa anggota keluarga kita sendiri. Kita bersyukur bahwa putra-putri Gereja telah menjadi kembang-kembang yang selama hidupnya telah menjadi keharuman bagi umat manusia, bagi Gereja dan juga telah menyatakan kemuliaan Allah sendiri selama hidupnya. Dari mereka kita mendapatkan keteladanan hidup, dari mereka pula kita bisa memohon bantuan doa untuk kita, karena mereka telah berbahagia di surga, turut memerintah bersama Kristus untuk kebaikan dunia ini.
Hari ini kita memperingati arwah semua orang beriman. Kita kenang mereka karena mereka pernah menjadi bagian dalam hidup atau berjasa bagi kita. Kita kenangkan mereka untuk kita doakan dengan cinta. Kita hadirkan mereka agar hidupnya abadi di surga dan kebaikan serta kebajikannya hidup terus di hati kita, dan dosa-dosa selama hidupnya diampuni Allah.
Bantuan yang kita berikan untuk keselamatan kekal bagi yang telah meninggal adalah dengan berbuat silih. Silih itu bisa dengan mendoakan mereka, bisa pula dengan berbuat amal kasih bagi orang-orang yang membutuhkan amalan dan kasih kita demi mereka yang telah meninggal; agar mereka beristirahat dalam damai. (RIP: Requescat In Pace).
Lewat perayaan para kudus dan peringatan arwah semua orang beriman dua hari ini, kita diingatkan kembali akan arah dan tujuan hidup kita yang masih hidup ini. Kita punya harapan dengan permandian dan menjadi pengikut Kristus adalah agar kitapun akhirnya masuk dalam kalangan para kudus, yang mendoakan dan bukan didoakan.
Kita diingatkan kembali akan harga dan martabat hidup manusia, yang mana Allah sendiri karena kasih-Nya yang begitu besar, mengutus Kristus, Putera-Nya sendiri, agar di dalam dan melalui Dia, kita, manusia tidak dihukum tetapi beroleh kehidupan yang kekal. Maka yang tidak memilih Dia akan selalu berada dalam hukuman karena mengikuti kemauannya sendiri dan kemauan dunia ini, yang ujung-ujungnya adalah kehampaan makna hidup. Hidup ini, baik suka maupun duka, tanpa bisa memaknainya, nestapalah jadinya.
Mari kita eratkan lagi persatuan kita dengan Kristus, sumber hidup dan keselamatan kita, kita teladani orang-orang kudus yang telah memberi contoh yang baik selama hidupnya, dan kita doakan mereka yang kita tahu karena dosa-dosa selama hidupnya agar berbahagia dalam keabadian. Mari kita terus tekun dan setia berdoa sebelum kita didoakan.
Dasar Kitab Suci dan Ajaran Gereja Katolik:
Pandangan Kitab Perjanjian Baru tentang dunia orang mati dan neraka mirip dengan pandangan Kitab Perjanjian Lama. Arwah orang-orang beriman berada di dunia orang mati, menantikan kebangkitan (1 Tes 4). Sementara itu, arwah orang-orang jahat berada di neraka (Luk 16), yang penuh dengan ulat dan api (Mrk 9; Mat 5), tangisan dan kertak gigi (Mat 13). Allah sendirilah yang mengirim arwah orang-orang jahat itu ke sana, sebagai hukuman yang setimpal dengan kejahatan mereka, sebab Allah itu juga hakim yang adil, bukan hanya Bapa yang murah hati (Mat 13; 25).
Dalam kitab Makabe terungkaplah suatu keyakinan, bahwa arwah orang-orang beriman masih dapat didoakan, supaya dosa-dosa mereka diampuni oleh Allah (2 Mak 12). Karena itu, sejak awal abad ke-2, umat kristen biasa berdoa untuk arwah orang-orang beriman yang telah meninggal, memohonkan pengampunan atas dosa-dosa mereka, agar arwah-arwah itu kemudian berbahagia di sorga. Selain itu, mereka juga sudah mengakui dengan tegas, dalam Syahadat Iman yang paling kuno, bahwa kelak tubuh orang-orang yang telah meninggal akan dibangkitkan.
Dalam konsili di Lyons, pada tahun 1274, pimpinan Gereja menegaskan bahwa arwah orang-orang beriman, yang masih harus menanggung hukuman dosa, dimurnikan lebih dulu oleh Allah sebelum diijinkan masuk sorga. Juga ditegaskan bahwa hukuman mereka itu dapat diringankan oleh orang-orang beriman yang masih hidup di dunia ini, misalnya dengan perayaan Ekaristi, doa-doa, derma, dan amal kasih.
Pada pertengahan abad ke-16, beberapa perintis Gereja reformasi meragukan kebenaran ajaran Katolik tentang masa penantian bagi arwah orang-orang mati. Maka, dalam konsili di Trente pada tahun 1563, para pemimpin Gereja Katolik menegaskan kembali ajaran Katolik tentang masa penantian itu.
Salam dan berkat Tuhan,
Pastor Petrus Mujiono, SCJ.