![]() |
Karya: Stanislava Karagyozova/istock.com |
Jumat, 28 Februari 2025
Hari Biasa Pekan VII
Gereja menegaskan lagi prakteknya yang berdasarkan Kitab Suci, untuk tidak mengizinkan mereka yang bercerai, kemudian menikah lagi, menyambut Ekaristi Kudus. Mereka tidak dapat diijinkan, karena status dan kondisi hidup mereka berlawanan dengan persatuan cinta kasih antara Kristus dan Gereja, yang dilambangkan oleh Ekaristi dan merupakan buahnya. Selain itu masih ada alasan pastoral khusus lainnya. Seandainya mereka itu diperbolehkan menyambut Ekaristi, umat beriman akan terbawa dalam keadaan sesat dan bingung mengenai ajaran Gereja, bahwa pernikahan tidak dapat diceraikan. (Paus Yohanes Paulus II, Anjuran Apostolik Familiaris Consortio, 84)
Antifon Pembuka (Sir 6:5-6)
Tutur kata yang manis mendapat banyak sahabat, dan keramahan diperbanyak oleh lidah yang manis lembut. Mudah-mudahan banyak orang berdamai denganmu
Doa Pagi
Hari Biasa Pekan VII
Gereja menegaskan lagi prakteknya yang berdasarkan Kitab Suci, untuk tidak mengizinkan mereka yang bercerai, kemudian menikah lagi, menyambut Ekaristi Kudus. Mereka tidak dapat diijinkan, karena status dan kondisi hidup mereka berlawanan dengan persatuan cinta kasih antara Kristus dan Gereja, yang dilambangkan oleh Ekaristi dan merupakan buahnya. Selain itu masih ada alasan pastoral khusus lainnya. Seandainya mereka itu diperbolehkan menyambut Ekaristi, umat beriman akan terbawa dalam keadaan sesat dan bingung mengenai ajaran Gereja, bahwa pernikahan tidak dapat diceraikan. (Paus Yohanes Paulus II, Anjuran Apostolik Familiaris Consortio, 84)
Antifon Pembuka (Sir 6:5-6)
Tutur kata yang manis mendapat banyak sahabat, dan keramahan diperbanyak oleh lidah yang manis lembut. Mudah-mudahan banyak orang berdamai denganmu
Doa Pagi
Allah Bapa Yang Mahabaik, Engkaulah
sahabat dan pemimpin kami berkat Yesus utusan-Mu. Semoga kami
Kauperkenankan saling memberikan persahabatan dan kebijaksanaan, yang
kami terima dari pada-Mu. Dengan pengantaraan Tuhan kami, Yesus Kristus, Putra-Mu, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dalam persatuan Roh Kudus, Allah, sepanjang segala masa. Amin.
Bacaan dari Kitab Putra Sirakh (6:5-17)
"Sahabat yang setia, tiada ternilai, dan harganya tiada terbayar."
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
Mazmur Tanggapan
Ref. Biarlah aku hidup menurut petunjuk perintah-perintah-Mu.
Ayat. (Mzm 119:12.16.18.27.34.35; R:35)
1. Terpujilah Engkau, ya Tuhan; ajarkanlah ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku.
2. Ketetapan-ketetapan-Mu akan menjadi sumber sukacitaku, firman-Mu tidak akan kulupakan.
3. Singkapkanlah mataku, supaya aku memandang keajaiban-keajaiban hukum-Mu.
4. Buatlah aku mengerti petunjuk titah-titah-Mu, supaya aku merenungkan perbuatan-perbuatan-Mu yang ajaib.
5. Buatlah aku mengerti, maka aku akan memegang hukum-Mu; dengan segenap hati aku hendak memeliharanya.
6. Biarlah aku hidup menurut petunjuk perintah-perintah-Mu, sebab aku menyukainya.
Bait Pengantar Injil, do = g, 2/4, PS 952
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya
Sesudah ayat, Alleluya dilagukan dua kali
Ayat. (Yoh 17:17b, 17a)
Sabda-Mu, ya Tuhan, adalah kebenaran. Kuduskanlah kami dalam kebenaran. Alleluya.
Inilah Injil Suci menurut Markus (10:1-12)
"Yang dipersatukan Allah, jangan diceraikan manusia."
Pada suatu hari Yesus berangkat ke daerah Yudea dan ke daerah seberang Sungai Yordan. Di situ orang banyak datang mengerumuni Dia, dan seperti biasa Yesus mengajar mereka. Maka datanglah orang-orang Farisi hendak mencobai Yesus. Mereka bertanya, “Bolehkah seorang suami menceraikan isterinya?” Tetapi Yesus menjawab kepada mereka, “Apa perintah Musa kepadamu?” Mereka menjawab, “Musa memberi izin untuk menceraikannya dengan membuat surat cerai.” Lalu Yesus berkata kepada mereka, “Karena ketegaran hatimulah Musa menulis perintah untukmu. Sebab pada awal dunia, Allah menjadikan mereka pria dan wanita; karena itu pria meninggalkan ibu bapanya dan bersatu dengan isterinya. Keduanya lalu menjadi satu daging. Mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu apa yang dipersatukan Allah, janganlah diceraikan manusia.” Setelah mereka tiba di rumah, Para murid bertanya pula tentang hal itu kepada Yesus. Lalu Yesus berkata kepada mereka, “Barangsiapa menceraikan isterinya lalu kawin dengan wanita lain, ia hidup dalam perzinahan terhadap isterinya itu. Dan jika isteri menceraikan suaminya lalu kawin dengan pria yang lain, ia berbuat zinah.”
Verbum Domini
(Demikianlah Sabda Tuhan)
U. Laus tibi Christe (U. Terpujilah Kristus)
Renungan
Dalam hukum Taurat dikatakan jangan berzinah. Tetapi Yesus membuat lebih keras dengan mengatakan: "Mereka yang memandang dan menginginkan seorang perempuan sudah berzinah dalam hatinya." Hukum Taurat membolehkan cerai dengan alasan zinah. Tetapi Yesus mengatakan: "Setiap orang yang menceraikan istrinya kecuali karena zinah, ia menjadikan istrinya berzinah dan yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berzinah". Yesus dengan keras jug menyatakan hal yang sebenarnya. Musa tidak memberikan aturan yang melegalkan perceraian, tapi ia terpaksa mengambil jalan tengah karena didesak oleh kaum laki-laki yang berdosa, untuk membatasi dan membendung akibat-akibat negatif yang ditimbulkan oleh para suami yang tidak bertanggung jawab. Sejak awal manusia menyepelekan tata tertib yang ditetapkan oleh Allah (bdk. Kej 1:27; 2:24). Itulah sebabnya Yesus berbicara tentang ketegaran hati!
Tampak Yesus memperkeras apa yang
ditulis dalam hukum Taurat. Ia mau menekankan pentingnya kasih dan
kesatuan dalam perkawinan dan juga kesucian hati. Kalau kita ingin
menjadi murid Yesus dalam hal kasih perkawinan dan juga seksualitas,
maka kita harus hidup lebih baik dalam perkawinan dan berkeluarga. Apa yang bisa kita pelajari dari Injil hari ini? Pertama,
perceraian tidak pernah menjadi kehendak Allah. Sejak awal dunia Allah
menghendaki laki-laki dan perempuan menjadi satu kesatuan. Perceraian
hanya merupakan salah satu tanda ketegaran hati manusia! Katekismus Gereja Katolik, 1650 menyatakan:
Karena itu, Gereja memegang teguh bahwa ia tidak dapat mengakui sah
ikatan yang baru, kalau Perkawinan pertama itu sah. Kalau mereka yang
bercerai itu kawin lagi secara sipil, mereka berada dalam satu situasi
yang secara obyektif bertentangan dengan hukum Allah. Karena itu, mereka
tidak boleh menerima komuni selama situasi ini masih berlanjut. Dengan
alasan yang sama mereka juga tidak boleh melaksanakan tugas-tugas
tertentu dalam Gereja. Pemulihan melalui Sakramen Pengakuan hanya dapat
diberikan kepada mereka yang menyesal, bahwa mereka telah mencemari
tanda perjanjian dan kesetiaan kepada Kristus, dan mewajibkan diri
supaya hidup dalam pantang yang benar."
Baca renungan lainnya di lumenchristi.id silakan klik tautan ini
Antifon Komuni (Sir 6:14a, 16a)
Sahabat setiawan merupakan perlindungan kokoh. Sahabat setiawan adalah obat kehidupan.
Jumat Pekan Ketujuh Masa Biasa
Komentar hari ini
Paus Benediktus XVI, Malam Kesaksian, Bresso Park, Milan, 2 Juni 2012
Komentar hari ini
Paus Benediktus XVI, Malam Kesaksian, Bresso Park, Milan, 2 Juni 2012
Masalah orang yang bercerai dan menikah lagi merupakan salah satu penderitaan besar Gereja saat ini. Dan kita tidak memiliki solusi yang sederhana. Penderitaan mereka besar, tetapi kita hanya dapat membantu paroki dan individu untuk membantu orang-orang ini menanggung rasa sakit perceraian. Saya ingin mengatakan, tentu saja, bahwa pencegahan sangat penting, sehingga mereka yang jatuh cinta dibantu sejak awal untuk membuat komitmen yang mendalam dan matang. Kemudian pendampingan selama kehidupan perkawinan dibutuhkan, sehingga keluarga tidak pernah ditinggalkan sendirian tetapi benar-benar didampingi dalam perjalanan mereka. Mengenai orang-orang ini - seperti yang telah Anda katakan - Gereja mencintai mereka, tetapi penting bagi mereka untuk melihat dan merasakan cinta ini. Saya melihat di sini tugas besar bagi sebuah paroki, sebuah komunitas Katolik, untuk melakukan apa pun yang mungkin untuk membantu mereka merasa dicintai dan diterima, untuk merasa bahwa mereka tidak "dikucilkan" meskipun mereka tidak dapat menerima pengampunan atau Ekaristi; mereka hendaknya melihat bahwa, dalam keadaan ini juga, mereka sepenuhnya menjadi bagian dari Gereja. Mungkin, meskipun tidak mungkin menerima pengampunan dalam Pengakuan Dosa, mereka tetap dapat terus berhubungan dengan seorang imam, dengan seorang pembimbing rohani. Ini sangat penting, agar mereka melihat bahwa mereka didampingi dan dibimbing. Kemudian juga sangat penting bagi mereka untuk benar-benar menyadari bahwa mereka berpartisipasi dalam Ekaristi jika mereka memasuki persekutuan sejati dengan Tubuh Kristus. Bahkan tanpa penerimaan sakramen "jasmani", mereka dapat dipersatukan secara rohani dengan Kristus dalam Tubuh-Nya. Membawa mereka untuk memahami hal ini penting: agar mereka menemukan cara untuk menjalani kehidupan iman berdasarkan Sabda Allah dan persekutuan Gereja, dan agar mereka dapat melihat penderitaan mereka sebagai anugerah bagi Gereja, karena penderitaan itu membantu orang lain dengan mempertahankan stabilitas cinta dan perkawinan. Mereka perlu menyadari bahwa penderitaan ini bukan sekadar rasa sakit fisik atau psikologis, tetapi sesuatu yang dialami dalam komunitas Gereja demi nilai-nilai agung iman kita. Saya yakin bahwa penderitaan mereka, jika benar-benar diterima dari dalam, merupakan anugerah bagi Gereja. Mereka perlu mengetahui hal ini, untuk menyadari bahwa ini adalah cara mereka melayani Gereja, bahwa mereka berada di jantung Gereja. Terima kasih atas komitmen Anda.
RENUNGAN PAGI