| Home | Bacaan Harian | Support Renungan Pagi | Renungan Minggu Ini | Kisah Para Kudus | Katekese Iman Katolik | Privacy Policy |

CARI RENUNGAN

>

Kamis, 26 Maret 2009

Kamis, 26 Maret 2009
Hari Biasa Pekan IV Prapaskah



Bacaan Pertama
Pembacaan dari Kitab Keluaran (32:7-14)

"Allah menyesali malapetaka yang dirancangkan-Nya atas umat-Nya."


7 Di Gunung Sinai berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Pergilah, turunlah, sebab bangsamu yang kaupimpin keluar dari tanah Mesir telah rusak lakunya. 8 Segera juga mereka menyimpang dari jalan yang Kuperintahkan kepada mereka; mereka telah membuat anak lembu tuangan, dan kepadanya mereka sujud menyembah dan mempersembahkan korban, sambil berkata: Hai Israel, inilah Allahmu yang telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir." 9 Lagi firman TUHAN kepada Musa: "Telah Kulihat bangsa ini dan sesungguhnya mereka adalah suatu bangsa yang tegar tengkuk.10 Oleh sebab itu biarkanlah Aku, supaya murka-Ku bangkit terhadap mereka dan Aku akan membinasakan mereka, tetapi engkau akan Kubuat menjadi bangsa yang besar." 11 Lalu Musa mencoba melunakkan hati TUHAN, Allahnya, dengan berkata: "Mengapakah, TUHAN, murka-Mu bangkit terhadap umat-Mu, yang telah Kaubawa keluar dari tanah Mesir dengan kekuatan yang besar dan dengan tangan yang kuat? 12 Mengapakah orang Mesir akan berkata: Dia membawa mereka keluar dengan maksud menimpakan malapetaka kepada mereka dan membunuh mereka di gunung dan membinasakannya dari muka bumi? Berbaliklah dari murka-Mu yang bernyala-nyala itu dan menyesallah karena malapetaka yang hendak Kaudatangkan kepada umat-Mu. 13 Ingatlah kepada Abraham, Ishak dan Israel, hamba-hamba-Mu itu, sebab kepada mereka Engkau telah bersumpah demi diri-Mu sendiri dengan berfirman kepada mereka: Aku akan membuat keturunanmu sebanyak bintang di langit, dan seluruh negeri yang telah Kujanjikan ini akan Kuberikan kepada keturunanmu, supaya dimilikinya untuk selama-lamanya."14 Dan menyesallah TUHAN karena malapetaka yang dirancangkan-Nya atas umat-Nya.
Demikianlah sabda Tuhan
Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref. Ingatlah akan daku, ya Tuhan, demi kemurahan-Mu terhadap umatku.

Ayat. (Mzm 106:19-20.21-22.23)
1. Mereka membuat anak lembu di Horeb, dan sujud menyembah kepada patung tuangan; mereka menukar Yang Mulia dengan patung sapi jantan yang makan rumput.
2. Mereka melupakan Allah yang telah menyelamatkan mereka, yang telah melakukan hal-hal yang besar di tanah Mesir; yang melakukan perbuatan-perbuatan ajaib di tanah Ham, dan perbuatan-perbuatan dahsyat di tepi Laut Teberau.
3. Maka Ia mengatakan hendak memusnahkan mereka kalau Musa, orang pilihan-Nya, tidak mengetengahi di hadapan-Nya, untuk menyurutkan amarah-Nya, sehingga Ia tidak memusnakan mereka.

Bait Pengantar Injil PS 965
Ref. Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal
Ayat.
Begitu besar kasih Allah kepada dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya, beroleh hidup yang kekal.

Bacaan Injil
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Yohanes (5:31-47)

"Yang mendakwa kamu adalah Musa, yang kepadanya kamu menaruh pengharapan."

31 Sekali peristiwa, Yesus berkata kepada orang Yahudi, "Kalau Aku bersaksi tentang diri-Ku sendiri, maka kesaksian-Ku itu tidak benar; 32 ada yang lain yang bersaksi tentang Aku dan Aku tahu, bahwa kesaksian yang diberikan-Nya tentang Aku adalah benar. 33 Kamu telah mengirim utusan kepada Yohanes dan ia telah bersaksi tentang kebenaran; 34 tetapi Aku tidak memerlukan kesaksian dari manusia, namun Aku mengatakan hal ini, supaya kamu diselamatkan.35 Ia adalah pelita yang menyala dan yang bercahaya dan kamu hanya mau menikmati seketika saja cahayanya itu.36 Tetapi Aku mempunyai suatu kesaksian yang lebih penting dari pada kesaksian Yohanes, yaitu segala pekerjaan yang diserahkan Bapa kepada-Ku, supaya Aku melaksanakannya. Pekerjaan itu juga yang Kukerjakan sekarang, dan itulah yang memberi kesaksian tentang Aku, bahwa Bapa yang mengutus Aku. 37 Bapa yang mengutus Aku, Dialah yang bersaksi tentang Aku. Kamu tidak pernah mendengar suara-Nya, rupa-Nyapun tidak pernah kamu lihat, 38 dan firman-Nya tidak menetap di dalam dirimu, sebab kamu tidak percaya kepada Dia yang diutus-Nya. 39 Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa oleh-Nya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, 40 namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu. 41 Aku tidak memerlukan hormat dari manusia. 42 Tetapi tentang kamu, memang Aku tahu bahwa di dalam hatimu kamu tidak mempunyai kasih akan Allah. 43 Aku datang dalam nama Bapa-Ku dan kamu tidak menerima Aku; jikalau orang lain datang atas namanya sendiri, kamu akan menerima dia. 44 Bagaimanakah kamu dapat percaya, kamu yang menerima hormat seorang dari yang lain dan yang tidak mencari hormat yang datang dari Allah yang Esa?45 Jangan kamu menyangka, bahwa Aku akan mendakwa kamu di hadapan Bapa; yang mendakwa kamu adalah Musa, yaitu Musa, yang kepadanya kamu menaruh pengharapanmu. 46 Sebab jikalau kamu percaya kepada Musa, tentu kamu akan percaya juga kepada-Ku, sebab ia telah menulis tentang Aku.47 Tetapi jikalau kamu tidak percaya akan apa yang ditulisnya, bagaimanakah kamu akan percaya akan apa yang Kukatakan?"
Demikianlah Injil Tuhan
Terpujilah Kristus.

Renungan

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

- Cukup banyak orang di dunia ini hanya memberi hormat kepada para pejabat, petinggi atau atasan dan itupun jika mereka sedang mengenakan pakaian dinas atau resmi sesuai dengan jabatannya. Dengan kata lain cukup banyak orang menghomati ‘kulit atau bungkus’ atau assesori-assesori bukan ‘isi’ atau pribadi manusia. Jika orang tidak mampu atau sampai menghormati pribadi manusia, rasanya mereka juga akan sulit untuk menghotmati Tuhan. Setiap manusia diciptakan oleh Tuhan sesuai dengan gambar dan citraNya, maka manusia adalah ciptaan terluhur dan termulia di dunia ini. Marilah kita saling menghormati sebagai pribadi manusia, entah apapun jabatan, fungsi atau kedudukannya, tanpa pandang bulu. Jika kita mampu saling menghormati dan mempercayai satu sama lain, maka kiranya dengan mudah kita akan percaya kepada Tuhan dan sabda-sabdaNya, dan sebagai tanda hormat kita kepadaNya kita melakukan apa yang Ia sabdakan atau kehendaki. Melaksanakan sabda-sabdaNya atau kehendakNya berarti kita datang, hidup atau bertindak sesuai dengan kehendakNya atau sabdaNya bukan kehendak atau keinginan diri sendiri. Secara konkret kita hidup dan bertindak sesuai dengan aturan dan tatanan yang berlaku di tempat dimana kita hidup dan bekerja. Kita bekerja keras melaksanakan tugas pekerjaan kita masing-masing. “Bekerja keras adalah sikap dan perilaku yang suka berbuat hal-hal yang positif dan tidak suka berpangku tangan serta selalu gigih dan sungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 10)


- “Ingatlah kepada Abraham, Ishak dan Israel, hamba-hamba-Mu itu, sebab kepada mereka Engkau telah bersumpah demi diri-Mu sendiri dengan berfirman kepada mereka: Aku akan membuat keturunanmu sebanyak bintang di langit, dan seluruh negeri yang telah Kujanjikan ini akan Kuberikan kepada keturunanmu, supaya dimilikinya untuk selama-lamanya.”(Kel 32:13), demikian kata Musa kepada Tuhan, yang akan mendatangkan malapetaka bagi bangsanya, untuk melunakkan hati Tuhan. Tuhan pun tidak jadi mendatangkan malapetaka yang direncanakanNya. Kata Musa ini kiranya baik menjadi permenungan atau refleksi kita. Mungkin di dalam hidup dan kerja kita menghadapi aneka kekacauan dan kesemrawutan yang dapat membuat orang marah atau jengkel. Ada kemungkinan orang-orang lupa akan janji-janji Tuhan, maka baiklah dalam situasi macam itu kita angkat atau ingatkan janji-janji Tuhan, yang menjanjikan kepada kita untuk hidup bahagia, tumbuh berkembang sebagai pribadi yang cerdas beriman. Kiranya dapat kita angkat peringatan ini :”Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus” (Fil 1:6).. Kita sedang dalam proses menuju ke pemenuhan hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita, dan kiranya dalam berproses senantiasa mengalami jatuh-bangun. Jika sedang jatuh marilah kita saling membangunkan, demikian juga mereka yang sedang tertidur kita bangunkan untuk bangkit; yang bermalas-malas kita tuntun untuk bekerja keras, dst...



[Ignatius Sumarya, SJ]


Photobucket

Rabu, 25 Maret 2009

Rabu, 25 Maret 2009
Hari Raya Kabar Sukacita


"Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau."



Doa Renungan Pagi

Allah Bapa yang kekal, bukalah hati kami agar mampu menerima duta kedamaian, cahaya dunia, sabda-Mu sendiri. Bebaskanlah kami agar dapat menyambut Putra Sang Perawan, yang merupakan pemenuhan janji-Mu Yesus Al Masih, Tuhan dan pengantara kami. Amin.

Bacaan Pertama
Pembacaan dari Kitab Yesaya (7:10-14; 8:10)

"Seorang perempuan muda akan mengandung."

Tuhan berfirman kepada Raja Ahas, "Mintalah suatu pertanda dari Tuhan, Allahmu, entah itu sesuatu dari dunia orang mati yang paling bawah, entah sesuatu dari tempat tertinggi yang di atas." Tetapi Ahas menjawab, "Aku tidak mau minta! Aku tidak mau mencobai Tuhan!" Lalu berkatalah Nabi Yesaya, "Baiklah! Dengarkanlah, hai keluarga Daud! Belum cukupkah kamu melelahkan orang, sehingga kamu melelahkan Allahku juga? Sebab itu, Tuhan sendirilah yang akan memberikan suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamai Dia Imanuel, artinya: Allah menyertai kita."

Mazmur Tanggapan PS 850
Ref. Ya Tuhan, aku datang melakukan kehendak-Mu.

Ayat. (Mzm 40:7-8a.8b-9.10-17)
1. Kurban dan persembahan tidak Kauinginkan, tetapi Engkau telah membuka telingaku; kurban bakar dan kurban silih tidak Engkau tuntut, lalu aku berkata, "Lihatlah, Tuhan, aku datang!"
2. Dalam gulungan kitab ada tertulis tentang aku: "Aku senang melakukan kehendak-Mu, ya Allahku; Taurat-Mu ada di dalam dadaku."
3. Aku mengabarkan keadilan di tengah jemaat yang besar, bibirku tidak kutahan terkatup; Engkau tahu itu, ya Tuhan.
4. Keadilan-Mu tidaklah kusembunyikan dalam hatiku, kesetiaan dan keselamatan-Mu kubicarakan, kasih dan kebenaran-Mu tidak kudiamkan, tapi kuwartakan kepada jemaat yang besar.
Demikianlah sabda Tuhan
Syukur kepada Allah.

Bacaan Kedua
Pembacaan dari Surat kepada Orang Ibrani (10:4-10)

"Lihatlah Aku datang untuk melakukan kehendak-Mu."

Saudara-saudara, tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba jantan menghapuskan dosa. Karena itu ketika Kristus masuk ke dunia, Ia berkata, "Kurban dan persembahan tidak Engkau kehendaki. Sebagai gantinya Engkau telah menyediakan tubuh bagiku. Kepada kurban bakaran dan kurban penghapus dosa Engkau juga tidak berkenan. Maka Aku berkata: Lihatlah, Aku datang untuk melakukan kehendak-Mu, ya Allahku." Jadi mula-mula Ia berkata, "Engkau tidak menghendaki kurban dan persembahan; Engkau tidak berkenan akan kurban bakaran dan kurban penghapus dosa -- meskipun dipersembahkan menurut hukum Taurat. -- Dan kemudian Ia berkata, "Lihat, Aku datang untuk melakukan kehendak-Mu." Jadi yang pertama telah Ia hapuskan untuk menegakkan yang kedua. Dan karena kehendak-Nya inilah kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus.
Demikianlah sabda Tuhan
Syukur kepada Allah

Bait Pengantar Injil PS 955
Ref. Alleluya, Alleluya
Ayat.Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.

Bacaan Injil
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (1:26-38)

"Engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki."

Dalam bulan yang keenam Allah mengutus Malaikat Gabriel ke sebuah kota di Galilea, bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. Ketika masuk ke rumah Maria, malaikat itu berkata, "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau." Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya, "Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya. Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya, dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan." Kata Maria kepada malaikat itu, "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku tidak bersuami?" Jawab malaikat itu kepadanya, "Roh Kudus akan turun atasmu, dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya, dan inilah bulan yang keenam bagi dia yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil." Maka kata Maria, "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; terjadilah padaku menurut perkataanmu itu." Lalu malaikat itu meninggalkan dia.
Inilah Injil Tuhan kita!
Sabda-Mu sungguh mengagumkan!
Renungan

"Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu."

“KehendakKu ialah menaklukkan seluruh dunia serta semua musuh, dan dengan demikian masuk ke dalam kemuliaan BapaKu. Barangsiapa mau ikut Aku dalam usaha ini, harus bersusah-payah bersama Aku, supaya karena ikut Aku dalam penderitaan, kelak dapat ikut pula dalam kemuliaan” (St.Ignatius Loyola, LR no 95). Kutipan ini adalah bagian dari bahan perihal kontemplasi “Panggilan Raja” di dalam Latihan Rohani St.Ignatius Loyola. Bahan ini sebagai renungan bagi retretan yang mulai tergerak hatinya untuk lebih mengenal Penyelamat Dunia, Yesus Kristus, yang dijanjikan oleh Allah, yang juga mendambakan keselamatan. Suasana hati retretan dalam kontemplasi ‘Panggilan Raja’ rasanya mirip dengan suasana hati Maria dan orang sezamannya yang mendambakan pemenuhan janji Allah tentang Penyelamat Dunia. Dalam dambaan suci tiba-tiba memperoleh ‘pencerahan sekaligus tantangan’ itulah yang dialami Maria ketika menerima kedatangan malaikat yang berkata:”Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau."…"Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan."(Luk 1:29-33). Sebagai seorang gadis mengandung tanpa suami jelas akan menjadi bahan gunjingan yang berat, namun ketika diberitahu bahwa ia mengandung karena Roh Kudus, maka Maria menjawab: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." (Luk 1:38)


"Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." (Luk 1:38)

Bunda Maria adalah teladan umat beriman, maka sebagai orang beriman kita dipanggil untuk meneladannya, antara lain dengan menyatakan dan menghayati sebagaimana dinyatakan oleh Bunda Maria :”Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu”. Seorang hamba atau pelayan memiliki tugas utama ‘melayani’ orang lain. “Melayani” dalam bahasa Latin “servire/servio” antara lain dapat berarti mengabdi, baik untuk/berguna, menolong, menurut kehendak orang, mengusahakan, membaktikan diri kepada, memusatkan pikirannya, mengerahkan kekuatan untuk, mengindahkan, menghiraukan (lih Drs.K.Prent CM, Drs J.Adisubrata, WJS Poerwadarminta: Kamus Latin-Indonesia, Kanisius 1969 , hal 787). Maka menjadi hamba atau pelayan yang memiliki tugas utama melayani berarti cara hidup dan cara bertindaknya seperti arti dari ‘servio’ di atas dimanapun dan kapanpun.

Cara hidup dan cara bertindak seorang hamba atau pelayan senantiasa membahagiakan atau menyelamatkan orang lain dan lingkungan hidupnya, ia setia dan taat pada apa yang dikatakan atau diperintahkan oleh tuan-tuannya. Sebagai hamba Tuhan berarti senantiasa dengan penuh kesetiaan dan ketaatan melaksanakan perintah-perintah atau sabda-sabda Tuhan, yang antara lain tertulis di dalam Kitab Suci serta ‘diterjemahkan’ ke dalam aneka macam bentuk konstitusi, pedoman hidup, anggaran dasar hidup bersama. Jiwa atau semangat melayani ini hemat saya pertama-tama dan terutama harus dihayati oleh mereka yang berpengaruh dalam hidup bersama, para pemimpin atau atasan, sehingga cara hidup dan cara bertindak pemimpin atau atasan dapat menjadi teladan bagi para anggota atau bawahannya. Marilah kita mendukung dan meneladan para gembala Gereja yang senantiasa menyatakan dan mengusahakan diri sebagai ‘hamba yang hina dina’ dalam menggembalakan atau melayani umat.

Hamba atau pelayan yang baik pada umumnya bekerja keras dan tidak pernah menggeluh atau menggerutu, juga ketika harus menerima perlakuan yang tidak enak atau tidak baik dari yang dilayani. Hamba atau pelayan senantiasa bersusah payah membahagiakan mereka yang harus dilayani, tidak pernah bermalas-malas atau bekerja seenaknya, menurut selera pribadi. Hamba atau pelayan yang baik senantiasa juga mengenali dengan baik mereka yang harus dilayani, sehingga pelayanannya diterima dengan senang hati dan gembira. Hamba atau pelayan berusaha menggembirakan mereka yang dilayani, maka panggilan bagi kita untuk melayani yang lain berarti cara hidup dan cara bertindak kita dimanapun dan kapanpun senantiasa menggembirakan yang lain. Kita adalah pewarta-pewarta kabar gembira, apa yang baik, menyelamatkan dan membahagiakan.


“Di atas Ia berkata: "Korban dan persembahan, korban bakaran dan korban penghapus dosa tidak Engkau kehendaki dan Engkau tidak berkenan kepadanya" -- meskipun dipersembahkan menurut hukum Taurat --.Dan kemudian kata-Nya: "Sungguh, Aku datang untuk melakukan kehendak-Mu." Yang pertama Ia hapuskan, supaya menegakkan yang kedua” (Ibr 10:8-9).

“Korban dan persembahan, korban bakaran dan korban penghapus dosa” pada umumnya bersifat liturgis atau formal atau bahkan ‘sandiwara’. Yang menjadi korban adalah orang atau yang lain. Hal ini sering terjadi tidak hanya dalam upacara liturgis atau keagamaan saja, tetapi juga terjadi di dalam hidup sehari-hari, dimana orang cenderung menampilkan ‘bungkus’ atau apa yang kelihatan, bukan ‘isi’ atau tindakan konkret sehari-hari. Kita semua sebagai orang beriman dipanggil untuk bersikap : “Sungguh, aku datang untuk melakukan kehendak-Mu/kehendak Tuhan”, dengan kata lain menjadi pelaksana-pelaksana kehendak Tuhan dalam hidup, tugas pengutusan, pekerjaan, jabatan atau fungsi sehari-hari. Kita dipanggil untuk berbudi pekerti luhur, dengan pemahaman “Sesungguhnya, pengertan budi pekerti yang paling hakiki adalah perilaku. Sebagai perilaku, budi pekerti meliputi pula sikap yang dicerminkan oleh perilaku” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka-Jakarta 1997, hal 4).

"Baiklah dengarkan, hai keluarga Daud! Belum cukupkah kamu melelahkan orang, sehingga kamu melelahkan Allahku juga?Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel.” (Yes 7:13-14), demikian kata nabi Yesaya kepada keluarga Daud. Kata nabi Yesaya ini kiranya dapat menjadi permenungan atau refleksi kita: dari cara hidup dan cara bertindak kita diharapkan ‘lahir Imanuel’ , dihasilkan buah-buah yang mendorong dan memotivasi siapapun yang kena dampak hidup dan bertindak kita untuk senantiasa mengimani penyertaan atau pendampingan Tuhan dalam dirinya yang lemah dan rapuh. Tentu saja dari diri kita sendiri senantiasa bersama dan bersatu dengan Tuhan, karena kita adalah pelaksana-pelaksana kehendak Tuhan. Marilah meneladan Imanuel “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Fil 2:6-8)





[Ignatius Sumarya, SJ]

Photobucket

Selasa, 24 Maret 2009

Selasa, 24 Maret 2009
Hari Biasa Pekan IV Prapaskah

Bacaan Pertama
Pembacaan dari Kitab Nubuat Yehezkiel (47:1-9.12)

"Saya melihat air mengalir dari dalam Bait Suci; ke mana saja air itu mengalir, semua yang ada di sana hidup."


Kata nabi: Seorang malaikat membawa aku ke pintu Bait Suci, dan sungguh, ada air keluar dari bawah ambang pintu Bait Suci, dan mengalir menuju ke timur: sebab Bait Suci juga menghadap ke timur. Air itu mengalir dari bawah bagian samping kanan dari Bait Suci, sebelah selatan mezbah. Lalu malaikat itu menuntun aku keluar melalui pintu gerbang utara, dan dibawanya aku berkeliling dari luar menuju gerbang yang menghadap ke timur. Sungguh, air itu membual dari sebelah selatan. Lalu malaikat itu pergi ke arah timur dan memegang tali pengukur di tangannya. Ia mengukur seribu hasta, dan menyuruh aku masuk ke dalam air itu; dalamnya sampai di pergelangan kaki. Ia mengukur seribu hasta lagi, dan menyuruh aku masuk sekali lagi ke dalam air itu; sekarang sudah sampai di lutut. Kemudian ia mengukur seribu hasta lagi, dan menyuruh aku ketiga kalinya masuk ke dalam air itu; sekarang sudah sampai di pinggang. Sekali lagi ia mengukur seribu hasta, dan sekarang air itu sudah menjadi sungai di mana aku tidak dapat berjalan lagi, sebab air itu sudah meninggi sehingga orang dapat berenang; suatu sungai yang tidak dapat diseberangi lagi. Lalu malaikat itu berkata kepadaku, "Sudahkah engkau lihat, hai anak manusia?" Kemudian ia membawa aku kembali menyusur tepi sungai itu. Dalam perjalanan pulang, sungguh, sepanjang tepi sungai itu ada amat banyak pohon, di sebelah sini dan di sebelah sana. Malaikat itu berkata kepadaku, "Sungai ini mengalir menuju wilayah timur, dan menurun ke Araba-Yordan, dan bermuara di laut Asin, maka air laut yang mengandung banyak garam itu menjadi tawar. Ke mana saja sungai itu mengalir, segala makhluk yang berkeriapan di dalamnya akan hidup. Ikan-ikan akan menjadi sangat banyak, sebab ke mana saja air itu sampai, air laut di situ menjadi tawar, dan ke mana saja sungai itu mengalir, semua yang ada di sana hidup. Pada kedua tepi sungai itu tumbuh bermacam-macam pohon buah-buahan, yang daunnya tidak layu dan buahnya tidak habis-habis. Tiap bulan ada lagi buahnya yang baru, sebab pohon-pohon itu mendapat air dari tempat kudus. Buahnya menjadi makanan dan daunnya menjadi obat."
Demikianlah sabda Tuhan
Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan PS 847
Ref. Tuhan penjaga, dan benteng perkasa, dalam lindungan-Nya aman sentosa.

Ayat. (Mzm 46:2-3.5-6.8-9)
1. Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti. Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut.
2. Kota Allah, kediaman Yang Mahatinggi, disukakan oleh aliran-aliran sebuah sungai. Allah ada di dalamnya, kota itu tidak akan goncang; Allah akan menolongnya menjelang pagi.
3. Tuhan semesta alam menyertai kita, kota benteng kita ialah Allah Yakub. Pergilah, pandanglah pekerjaan Tuhan, yang mengadakan pemusnahan di bumi.

Bait Pengantar Injil PS 965
Ref. Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal.
Ciptakanlah hati yang murni dalam diriku, ya Allah, berilah aku sukacita karena keselamatan-Mu.

Bacaan Injil
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Yohanes (5:1-16)

"Orang itu disembuhkan seketika."

Pada hari raya orang Yahudi, Yesus berangkat ke Yerusalem. Di Yerusalem, dekat pintu Gerbang Domba, ada sebuah kolam, yang dalam bahasa Ibrani disebut Betesda; serambinya ada lima, dan di serambi-serambi itu berbaring sejumlah besar orang sakit. Orang-orang buta, orang-orang timpang dan orang-orang lumpuh, yang menantikan goncangan air kolam itu. Sebab sewaktu-waktu turun malaikat Tuhan ke kolam itu dan menggoncangkan air itu. Barangsiapa yang terdahulu masuk ke dalamnya sesudah goncangan air itu, menjadi sembuh, apa pun juga penyakitnya. Ada di situ seorang yang sudah tiga puluh delapan tahun lamanya sakit. Ketika Yesus melihat orang itu berbaring di sana, dan karena Ia tahu, bahwa ia telah lama dalam keadaan itu, berkatalah Ia kepadanya, "Maukah engkau sembuh?" Jawab orang sakit itu kepada-Nya, "Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu, apabila airnya mulai goncang; dan sementara aku sendiri menuju kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku." Kata Yesus kepadanya, "Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah." Dan pada saat itu juga sembuhlah orang itu, lalu ia mengangkat tilamnya dan berjalan. Tetapi hari itu hari sabat. Karena itu orang-orang Yahudi berkata kepada orang yang baru sembuh itu, "Hari ini hari sabat, dan tidak boleh engkau memikul tilammu." Akan tetapi ia menjawab mereka, "Orang yang telah menyembuhkan aku, dia yang mengatakan kepadaku: Angkatlah tilammu dan berjalanlah." Mereka bertanya kepadanya, "Siapakah orang itu yang berkata kepadamu; Angkatlah tilammu dan berjalanlah?" Tetapi orang yang baru sembuh itu tidak tahu siapa orang itu, sebab Yesus telah menghilang ke tengah-tengah orang banyak di tempat itu. Kemudian, ketika bertemu dengan dia dalam Bait Allah, Yesus lalu berkata kepadanya, "Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk." Orang itu keluar, lalu menceritakan kepada orang-orang Yahudi, bahwa Yesuslah yang telah menyembuhkan dia. Dan karena itu orang-orang Yahudi berusaha menganiaya Yesus, karena Ia melakukan hal-hal itu pada hari Sabat.
Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya.
Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran dan hidup kami.


Renungan


Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

¡P Salah satu fungsi air adalah demi kebersihan, dan air yang bergoncang memiliki kekuatan luar biasa sebagaimana sering terjadi dalam bentuk gelombang laut yang tinggi, entah karena cuaca atau tsunami, atau banjir bandang. Karena badai gelombang tinggi atau banjir bandang maka apa-apa yang lemah dan rapuh, entah bangunan atau pohon dst..akan roboh. Dalam Warta Gembira hari ini kita dengarkan iman perihal goncangan air kolam di dekat Pintu Gerbang Domba yang dapat menyembuhkan penyakit apapun. Hemat saya hal ini merupakan symbol rahmat baptisan yang telah kita terima, dimana ketika dibaptis dibebaskanlah kita dari segala dosa. Maka baiklah bagi kita yang telah dibaptis, marilah kita mawas diri perihal rahmat pembaptisan yang telah kita terima. Dibaptis berarti dibersihkan, disucikan, disisihkan sepenuhnya bagi Tuhan, sehingga orang yang telah dibaptis dikuasai atau dirajai oleh Tuhan dan dengan demikian orang yang telah dibaptis senantiasa diharapkan untuk melakukan apa yang baik dan benar. Dengan melakukan apa yang baik dan benar maka kita senantiasa akan segar bugar, sehat dan selamat. Untuk melakukan apa yang baik dan benar juga tidak terikat oleh ruang dan waktu, dimana ada kesempatan dan kemungkinan atau kebutuhan kita dapat melakukannya. Ada kemungkinan demi kebaikan dan kebenaran sejati secara konkret kita harus melanggar atau atau sebenarnya mengatasi peraturan yang berlaku, seperti hari Sabat orang Yahudi. Hidup dan kerja bersama pada masa kini masih diwarnai oleh korupsi dalam berbagai bentuk dan tingkatan. Sebagai orang yang telah dibaptis atau disisihkan seutuhnya kepada Tuhan kita dipanggil untuk mengatasi diri sendiri dengan tanpa takut dan gentar melawan dan memberantas aneka macam bentuk korupsi yang masih marak pada masa kini. Jangan takut dan gentar karena melakukan apa yang baik dan benar anda dibenci atau diancam oleh orang-orang yang gila harta benda, jabatan/kedudukan atau kehormatan duniawi.

- “Ke mana saja sungai itu mengalir, segala makhluk hidup yang berkeriapan di sana akan hidup. Ikan-ikan akan menjadi sangat banyak, sebab ke mana saja air itu sampai, air laut di situ menjadi tawar dan ke mana saja sungai itu mengalir, semuanya di sana hidup” (Yeh 47:9). Marilah kutipan ini kita refleksikan sebagai suatu ajakan untuk menempatkan diri kita bagaikan ‘air’, dimana kita telah menerima rahmat pembaptisan yang ditandai dengan pencurahan air di dahi atau otak kita. Maka hendaknya apa yang kita pikirkan dan kemudian kita lakukan dimanapun dan kapanpun senantiasa membuat apapun dan siapapun yang kena dampak cara hidup dan cara bertindak kita ‘hidup, tumbuh berkembang dan enak/nikmat’. Hendaknya apa yang ada di otak atau pikiran kita adalah yang baik dan benar, sehingga kita senantiasa berusaha melakukan apa yang baik dan benar. Kehadiran dan sepak terjang kita merupakan kesaksian iman kita sebagai orang yang telah disucikan atau dibaptis. Kesaksian penghayatan iman dalam hidup sehari-hari merupakan cara utama dan pertama yang tak tergantikan oleh cara apapun dalam tugas merasul, menjadi utusan-utusan Tuhan untuk mewartakan apa yang baik dan benar. Maka kepada mereka yang sering bepergian karena tugas atau jabatan, lebih-lebih para pentinggi atau atasan, hendaknya kehadirannya dimanapun senantiasa mewartakan apa yang baik dan benar, dan tentu saja pertama-tama dan terutama dengan keteladanan atau kesaksian, baru dengan kata-kata atau omongan. Marilah kita buat apa yang asin menjadi tawar, yang tidak baik menjadi baik, yang tidak benar menjadi benar, yang salah dibetulkan, yang sakit disembuhkan, yang lemah dikuatkan, yang berbeban berat diringankan , dst..



[Ignatius Sumarya, SJ]

Photobucket

Renungan APP Prapaskah KAJ 2009, Pertemuan Keempat: Bertanggung Jawab pada Bangsa dan Negara

Pertemuan Keempat


BERTANGGUNG JAWAB PADA BANGSA DAN NEGARA



1. Lagu Pembuka: Indonesia Raya (berdiri)

2 . Tanda Salib dan Salam

P Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus.
U Amin.

P Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan Putera- Nya Yesus Kristus, besertamu.
U Dan sertamu juga.

3. Pengantar

Dalam hidup berbangsa dan bernegara orang Katolik adalah warganegara 100 %. Sebagai warganegara, ia harus berbakti kepada bangsa dan negara Indonesia. Umat Katolik bertanggung jawab untuk mewujudkan kesejahteraan sesama warga negara di segala bidang. Salah satu wujud partisipasi adalah dengan menggunakan hak pilih dalam Pemilihan Umum (Pemilu) 2009. Yesus, Tuhan kita, memberi teladan dan mengajarkan bagaimana menghormati para pimpinan negara dan membayar pajak kepada penguasa negara. Tentu saja Yesus juga mengajak kita untuk memberi apa yang menjadi hak Allah. Bagaimana kita mewujudkan tanggung jawab pada Allah sekaligus mewujudkan tanggung jawab pada bangsa dan negara ini? Ini akan kita bahas dan renungkan dalam pertemuan ke-4 ini.

4. Pernyataan Tobat

P Marilah kita memeriksa batin kita sejenak. (hening sejenak).

Saya mengaku....
U kepada Allah yang mahakuasa dan kepada Saudara sekalian, bahwa saya telah berdosa, dengan pikiran dan perkataan, dengan perbuatan dan kelalaian. Saya berdosa, saya berdosa, saya sungguh berdosa. Oleh sebab itu, saya mohon kepada Santa Perawan Maria, kepada para malaikat dan orang kudus dan kepada Saudara sekalian, supaya mendoakan saya pada Allah, Tuhan Kita. Amin.

P Semoga Tuhan yang berbelaskasih mengampuni kita, membebaskan kita dari dosa dan menganugerahkan hati yang bersih.
U Amin.

5. Doa Pembuka

Allah Bapa penyayang kehidupan, kami bersyukur boleh mendiami tanah air Indonesia dengan segala keragaman dan kekayaan alamnya. Kami bersyukur bahwa Engkau menyertai perjalanan bangsa dan negara kami. Bantulah kami agar dari hari ke hari kami semakin bersatu hati mewujudkan kesejahteraan umum. Terangilah hati dan budi kami agar tidak berpandangan sempit memperjuangkan kepentingan kelompok dan golongan sendiri. Demi Kristus, yang mengasihi semua orang dan telah wafat menebus dosa manusia, dalam persekutuan Roh Kudus, hidup kini dan sepanjang masa. Amin.

6. Lagu Pengantar Bacaan: Padamu Negeri

7. Bacaan Kitab Suci: Mrk 12: 13-17

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Markus (12:13-17)

"Berikanlah kepada kaisar apa yang menjadi hak kaisar dan kepada Allah apa yang menjadi hak Allah."

13 Pada waktu itu beberapa orang Farisi dan Herodian disuruh menghadap Yesus untuk menjerat Dia dengan suatu pertanyaan. 14 Orang-orang itu datang dan berkata kepada-Nya: "Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur, dan Engkau tidak takut kepada siapapun juga, sebab Engkau tidak mencari muka, melainkan dengan jujur mengajar jalan Allah dengan segala kejujuran. Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak? Haruskah kami bayar atau tidak?" 15 Tetapi Yesus mengetahui kemunafikan mereka, lalu berkata kepada mereka: "Mengapa kamu mencobai Aku? Bawalah ke mari suatu dinar supaya Kulihat!" 16 Lalu mereka bawa. Maka Ia bertanya kepada mereka: "Gambar dan tulisan siapakah ini?" Jawab mereka: "Gambar dan tulisan Kaisar." 17 Lalu kata Yesus kepada mereka: "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah!" Mereka sangat heran mendengar Dia.
Demikianlah Injil Tuhan
Terpujilah Kristus.

(Perikop dibaca 3 kali: bersama-sama satu kali, dibacakan oleh salah seorang peserta, dan membaca dalam hati.)


Renungan singkat

Negara dan bangsa adalah wadah pemersatu berbagai keragaman dan latar belakang warga negaranya. Negara dan bangsa ada untuk melindungi dan menciptakan kedaulatan setiap manusia. Dalam hal ini negara dan bangsa adalah baik sebagai dikehendaki oleh Tuhan. Sebagai warga negara setiap orang memiliki hak dan kewajiban yang sama. Siapa yang memiliki lebih, hendaknya memberi lebih, agar tercipta keadilan dan kesejahteraan semua warga. Yesus pun mengajarkan hal yang sama bahwa setiap orang punya kewajiban untuk membayar pajak kepada penguasa. Tujuan pajak, pada akhirnya, demi membangun negara dan kepentingan bersama. Namun, Yesus juga menekankan perlunya kewajiban sebagai warga Kerajaan Allah. Dengan demikian, kewajiban yang satu tidak meniadakan kewajiban yang lain. Kedua-duanya mesti dipenuhi.

Apa kewajiban kita terhadap Allah? Rasanya bukan sesuatu yang sangat rumit. Sebagaimana Allah telah memberikan kepada manusia dengan gratis (gratia = rahmat), maka manusia berkewajiban untuk memberikan dengan cuma-cuma pula. Oleh karena itu, manusia diundang untuk bermurah hati, sama seperti Bapa murah hati adanya. Kewajiban yang datang dari Allah rasanya demi kepentingan manusia juga, misalnya: memuji dan memuliakan Allah lewat doa dan ibadat. Contoh lain adalah memberikan derma kepada fakir miskin dan kaum terlantar, sebagaimana Tuhan bersabda: ”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku (Mat 25:40)”. Sepuluh perintah Allah diberikan juga bukan demi kepentingan Allah, tetapi agar manusia selamat. Maka, tunggu apa lagi? Mari kita lakukan kewajiban kita kepada Tuhan dan kepada bangsa dan negara kita.

8. Doa Umat

P Marilah kita menyatukan hati kita untuk berdoa bagi bangsa dan negara:

P Bapa yang penuh kasih, utuslah Roh Kudus untuk menyatukan berbagai macam perbedaan dan keragaman yang ada pada bangsa dan negara kami.
U Semoga di negara dan bangsa kami tetap tercipta perdamaian dan kerukunan sehingga kami semakin maju dan berkembang.

P Bapa berkatilah dan jagailah para pemimpin bangsa dan negara kami agar mereka bertindak jujur dan adil.
U Berilah hati yang bijaksana sehingga mereka mau berkorban dan mengusahakan kebaikan dan kesejahteraan bagi semua.

P Bapa, Putera-Mu mengajak kami untuk bertanggung jawab terhadap masa depan bangsa dan negara kami dengan ikut membayar pajak kepada pemerintah.
U Ajarilah kami untuk menghargai setiap usaha dan niat baik pemerintah. Doronglah kami untuk mau terlibat dalam usaha menciptakan perdamaian, keadilan dan kesejahteraan sosial.

P Bapa, sebentar lagi bangsa kami akan menyelenggarakan Pemilihan Umum. Berkatilah seluruh proses pemilihan agar dapat berjalan dengan baik dan lancar.
U Semoga kami dan semua yang terlibat dalam Pemilu dapat bekerja dengan bersih, jujur dan adil, sehingga terpilihlah wakil-wakil yang dapat menyuarakan kebaikan dan bekerja demi kepentingan bersama.
P Marilah kita panjatkan doa dan permohonan kita ....

Marilah kita mohon:
U Kabulkanlah doa kami ya Tuhan.

P Dengarkanlah ya Tuhan segala doa yang kami sampaikan dengan rendah hati kepada-Mu. Perkenankanlah kami menggabungkannya dengan doa Kristus Putera-Mu. Bapa kami ....

9. Doa Penutup (terinpirasi dari Doa untuk Tanah Air, PS. 194 )

Ya Bapa, kami bersyukur atas tanah air kami yang luas dengan isinya yang beraneka ragam; lautan dengan ribuan pulau, gunung dan dataran, hutan dan belantara; semuanya menyemarakkan tanah air kami. Kami bersyukur atas ratusan suku dan aneka budaya serta bahasa yang Kau himpun menjadi satu bangsa dan satu bahasa. Kami mohon berkat-Mu bagi semua yang mendiami tanah air ini. Semoga kami semua berusaha memelihara dan memajukannya. Bebaskanlah tanah air kami dari bahaya bencana alam, lumpur, longsor, tsunami, kelaparan dan wabah penyakit. Semoga pemimpin bangsa kami tekun membangun tanah air ini demi kemakmuran dan kesejahteraan seluruh bangsa bukan untuk kepentingan golongan tertentu saja. Bantulah mereka mewujudkan tanah air yang adil, makmur, aman, damai dan sejahtera bukan menciptakan ‘Tsunami bangsa’ sehingga rakyat semakin menderita. Semua ini kami sampaikan kepada-Mu dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.

10. Membangun Niat

(Pemimpin mengajak umat membuat niat konkret, yaitu: siapa melakukan apa dan kapan dilaksanakan. Dengan demikian, Umat sungguh menghidupi Sabda Tuhan.)

11. Berkat dan Pengutusan

P Tuhan sertamu.
U Dan sertamu juga.

P Semoga Allah Bapa yang mahakasih mengertai dan memberkati kita dalam setiap usaha dan niat baik kita.


Photobucket

Renungan APP Prapaskah KAJ 2009, Pertemuan Ketiga: Bertanggung Jawab pada Masyarakat Luas

Pertemuan Ketiga

BERTANGGUNG JAWAB PADA MASYARAKAT LUAS



1. Lagu Pembuka

2. Tanda Salib dan Salam

P Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus.
U Amin.

P Rahmat Tuhan kita Yesus Kristus, cinta kasih Allah dan persekutuan Roh Kudus besertamu.
U Dan sertamu juga.

3. Pengantar

Gereja hadir di tengah masyarakat yang majemuk dan situasi nyata masyarakat yang lemah, miskin dan menderita. Gereja sebagai paguyuban murid-murid Kristus dipanggil dan diutus untuk mewujudkan kesejahteraan umum, membebaskan orangorang yang tertindas oleh ketidakadilan, memberantas kemiskinan dan memelihara lingkungan hidup. Yesus mengajak para murid untuk berbelaskasih dan melakukan tindakan nyata membantu orang yang lapar dan haus akan kasih Tuhan. Sebagaimana para murid menerima kasih dan pemeliharaan Tuhan dengan cuma-cuma, maka kita diundang untuk memberi dengan cuma-cuma pula. Pertemuan ketiga ini mengajak kita untuk mensyukuri relasi dengan Kristus sekaligus untuk menanggapi ajakan Kristus bertanggung jawab terhadap nasib saudara-saudari kita yang berkekurangan.

4. Pernyataan Tobat ( TPE hal 21 )
P Marilah kita hening sejenak untuk memeriksa batin, khususnya sikap kita terhadap masyarakat pada umumnya. (hening sejenak)

P Tuhan Yesus Kristus, Engkau memanggil kami supaya berbuat yang benar. Tuhan, kasihanilah kami.
U Tuhan, kasihanilah kami.

P Engkau menanggung dosa kami supaya kami bebas dari kekuatan dosa dan dapat hidup menurut kehendak Allah. Kristus, kasihanilah kami.
U Kristus, kasihanilah kami.

P Engkau menderita bagi kami supaya kami selamat dan mengikuti jejakMu. Tuhan, kasihanilah kami.
U Tuhan, kasihanilah kami.

P Semoga Allah yang mahakuasa mengasihani kita mengampuni dosa kita, mengantar kita kehidupan yang kekal.
U Amin

5. Doa Pembuka (bersama-sama)
Allah Bapa, Pencipta dan Penyayang kehidupan, Engkau mengetahui apa yang sedang terjadi pada masyarakat kami. Begitu banyak bencana dan krisis yang menimpa, entah karena bencana alam maupun karena buatan tangan manusia sendiri. Semoga masyarakat kami mau bertanggung jawab atas bencana yang terjadi dan kami tergerak untuk bersatu mengatasinya. Demi Kristus, Putera-Mu, Tuhan dan Pengantara kami. Amin.

6. Lagu Pengantar Bacaan

7. Bacaan Kitab Suci : Mat 14:13-21
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius:

13 Setelah Yesus mendengar berita itu menyingkirlah Ia dari situ, dan hendak mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi. Tetapi orang banyak mendengarnya dan mengikuti Dia dengan mengambil jalan darat dari kota-kota mereka. 14 Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit. 15 Menjelang malam, murid-murid-Nya datang kepada-Nya dan berkata: "Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa." 16 Tetapi Yesus berkata kepada mereka: "Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan." 17 Jawab mereka: "Yang ada pada kami di sini hanya lima roti dan dua ikan." 18 Yesus berkata: "Bawalah ke mari kepada-Ku." 19 Lalu disuruh-Nya orang banyak itu duduk di rumput. Dan setelah diambil-Nya lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya membagi-bagikannya kepada orang banyak. 20 Dan mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, dua belas bakul penuh. 21 Yang ikut makan kira-kira lima ribu laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak.
Demikianlah Injil Tuhan
Terpujilah Kristus.


(Perikop dibaca 3 kali: bersama-sama satu kali, dibacakan oleh salah seorang peserta, dan membaca dalam hati.)



Renungan singkat

Makan adalah salah satu kebutuhan pokok manusia selain tempat tinggal dan pakaian. Di antara kita masih banyak yang bertanya: besok makan apa? Artinya: banyak saudara-saudari kita yang belum mendapatkan makanan. Tidak jarang kekurangan makan, bukan karena tidak ada makanan, tetapi karena tidak ada keadilan, yaitu: keadilan distributif, pembagian makanan yang tidak merata. Bumi dan kekayaan alam dipercayakan kepada manusia, untuk kesejahteraan manusia, namun sayangnya hanya dikuasai sebagian kecil saja manusia, sehingga banyak orang tidak mendapatkan makanan. Tuhan kita Yesus Kristus, Raja Semesta Alam, sangat mengasihi manusia. Ia memberikan makanan dan rejeki. Ingat saja bagaimana Allah menyediakan makanan bagi Umat-Nya ketika mereka kelaparan di padang gurun. Hati Tuhan selalu berbelaskasihan kepada semua orang, terlebih mereka yang lemah, sakit dan kelaparan. Yesus mengundang dan melibatkan para murid-Nya untuk memberikan makanan dan kesembuhan bagi semua orang. Ia mengajak Para murid-Nya untuk bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidup sesamanya. Mereka diminta percaya bahwa bersama Dia tidak ada orang yang berkekurangan. Dengan demikian para murid diajak untuk ”berpolitik”, bukan dalam arti berpolitik praktis, tetapi dalam arti memperjuangan kesejahteraan semua orang. Para murid diundang untuk tidak memperkaya diri, tetapi bekerja dengan jujur dan tekun, serta memberikan apa yang menjadi hak orang lain untuk makan, pakaian, tempat tinggal, kesehatan. Kita diharapkan bertanggung jawab terhadap hidup sesama, agar saudara kita dapat memuji dan memuliakan Tuhan. Bagaimana caranya? para murid diajak untuk bersyukur atas berapa pun yang mereka miliki. Mereka diminta untuk berani menyerahkan segala milik dan jerih payah mereka kepada Tuhan. Para murid hendaknya beriman kepada-Nya. Selain itu, kita dapat membayangkan juga bahwa kalau setiap orang menyumbang sedikit dari apa yang mereka miliki, maka kumpulan itu bisa dibagikan kepada mereka yang tidak memiliki sama sekali. Inilah kekuatan Ekaristi: bersyukur dan percaya kepada Tuhan dan memberi sebagian dari apa yang kita miliki.

8. Doa Umat

P Marilah kita merendahkan diri di hadapan Allah dan memanjatkan doa dan permohonan kita:

P Yesus, Engkau mengajarkan kami, untuk peka dan peduli akan kebutuhan sesama kami yang terlantar dengan saling berbagi sebagai rasa ungkapan bertanggung jawab satu terhadap yang lain.
U Mampukanlah kami, ya Tuhan, untuk percaya bahwa Engkau sungguh berada di tengah-tengah kami. Buatlah hati kami berbelaskasih seperti Engkau.

P Ya Bapa, Engkau memanggil dan mengutus Gereja-Mu membawa warta pembebasan bagi yang miskin, yang tertindas, yang lapar, dan membawa pendamaian dan pengampunan terhadap pelaku tindak kekerasan.
U Kuatkanlah tangan kami untuk bekerja demi kebaikan semua orang, mendahulukan mereka yang miskin dan lemah. Roh Kudus tinggallah di tengah-tengah kami selalu agar kami menyadari tanggung jawab kami pada masyarakat luas.

P Tuhan, kami bersyukur atas rejeki yang Kau berikan pada kami, yang Kau sediakan melalui orang-orang yang berjasa kepada kami. Ingatkan kami masih banyak mereka yang tidak mendapatkan rejeki.
U Ajarilah kami untuk menghargai segala pemberianmu dengan bijaksana, semoga kami mau dan mampu menghargai setiap jerih payah saudara kami yang menyediakannya.

P Marilah kita memanjatkan doa dan permohonan kita .... Marilah kita mohon: U Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan.

Demikianlah, ya Bapa, doa dan permohonan yang sempat terucap lewat kata-kata kami. Perkenankanlah kami menggabungkannya dengan doa yang diajarkan Putra-Mu sendiri. Bapa kami ....

9. Doa Penutup (bersama-sama)
Tuhan Yesus, kami bersyukur bahwa Engkau selalu memberi kami rejeki dan mengundang kami untuk ambil bagian dalam perjamuan-Mu. Semoga berkat persatuan dengan-Mu kami tergerak untuk membantu mereka yang lapar, miskin dan tertindas. Semoga semangat solidaritas untuk berbagi senantiasa hadir di tengah-tengah kami sebagaimana Engkau selalu ingin tinggal pada kami. Karena Engkaulah Tuhan yang bangkit yang membebaskan kami dari dosa dan kelemahan kami. Amin.

10. Membangun Niat

(Pemimpin mengajak umat membuat niat konkret, yaitu: siapa melakukan apa dan kapan dilaksanakan. Dengan demikian, Umat sungguh menghidupi Sabda Tuhan.)

11. Berkat dan Pengutusan
P Tuhan sertamu.
U Dan sertamu juga.

P Berkat Allah yang mahakuasa meneguhkan persaudaraan dan solidaritas kita pada masyarakat yang membutuhkan.




Photobucket

Renungan APP Prapaskah KAJ 2009, Pertemuan Kedua: Bertanggung Jawab Pada Lingkungan

Pertemuan Ke Dua

BERTANGGUNG JAWAB PADA LINGKUNGAN



1. Lagu Pembuka

2. Tanda Salib dan salam

P Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus.
U Amin.

P Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan Tuhan kita Yesus Kristus besertamu.
U Dan sertamu juga.

3. Pengantar

Lingkungan sebagai komunitas basis menjadi fokus pemberdayaan Gereja Keuskupan Agung Jakarta. Secara khusus, komunitas basis diberdayakan dengan strategi gembala yang baik. Itu berarti: setiap anggota diajak untuk mencari dan menemukan yang hilang dalam komunitas tersebut dan mengajak setiap anggota untuk terlibat aktif. Pertemuan kedua, mengajak kita untuk menyadari tanggung jawab kita dalam membangun komunitas basis lingkungan. Paulus dalam suratnya memberi nasehat untuk bertanggung jawab terhadap saudara-saudara seiman. Tanggung jawab tersebut diwujudkan dalam berbagai macam tingkat, mulai dari diri sendiri hingga tanggung jawab pada komunitas. Semoga kita makin bertanggung jawab terhadap saudara-saudara kita seiman dan mengembangkan karya pelayanan dan persekutuan kita.

4. Pernyataan Tobat

P Marilah kita hening sejenak memeriksa batin kita bagaimana sikap kita terhadap saudara-saudari kita di lingkungan. (hening sejenak) Marilah menyesali dan mengakui segala kelemahan kita.

U Allah yang maharahim, aku menyesal atas dosa-dosaku. Aku sungguh patut Engkau hukum, terutama karena aku telah tidak setia kepada Engkau yang maha pengasih dan maha baik bagiku. Aku benci akan segala dosaku, dan berjanji dengan pertolongan rahmat-Mu hendak memperbaiki hidupku dan tidak akan berbuat dosa lagi. Allah yang mahamurah, ampunilah aku, orang berdosa. Amin.

5. Doa Pembuka (bersama-sama)
Ya Tuhan Allah, Bapa kami, Engkau menghendaki kami berkarya untuk dunia dengan menyebarkan cinta kasih, pertama-tama di antara saudara seiman, membangun iman dan persekutuan. Bantulah kami masing-masing menemukan peran dan tanggung jawab kami dalam pelayanan Gerejani sesuai dengan panggilan hidup kami. Bukalah hati kami untuk selalu dibimbing dalam hidup menggereja dan memasyarakat. Demi Kristus, Tuhan kami yang hidup kini dan sepanjang masa. Amin.

6 Lagu Pengantar Bacaan

7. Bacaan Kitab Suci : Gal 6:1-10

Bacaan Kitab Suci :
Pembacaan dari Surat Rasul Paulus kepada umat di Galatia (6:1-10)

"Barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh"

1 Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan. 2 Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus. 3 Sebab kalau seorang menyangka, bahwa ia berarti, padahal ia sama sekali tidak berarti, ia menipu dirinya sendiri. 4 Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri; maka ia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain. 5 Sebab tiap-tiap orang akan memikul tanggungannya sendiri. 6 Dan baiklah dia, yang menerima pengajaran dalam Firman, membagi segala sesuatu yang ada padanya dengan orang yang memberikan pengajaran itu. 7 Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. 8 Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu. 9 Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. 10 Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.
Demikianlah sabda Tuhan
Syukur kepada Allah.


(Perikop dibaca 3 kali: bersama-sama satu kali, dibacakan oleh salah seorang peserta, dan membaca dalam hati.)


Renungan singkat

Siapa biasa ikut dalam pertemuan atau ibadat di lingkungan? Rasanya tidak banyak, atau orang itu-itu lagi. Mengapa sebagian tidak ikut dalam pertemuan lingkungan? Alasan dan jawabannya bisa bermacam-macam. Ada yang merasa tidak berguna; ada yang sakit hati; ada yang sudah aktif di tempat lain; merasa terbebani pekerjaan; sudah punya komunitas lain; sering berpindah-pindah; atau tidak peduli. Menarik bila menyimak surat Paulus ini karena mengajak untuk tetap memperhatikan dan bertanggung jawab terhadap saudara-saudari seiman. Tanggungjawab itu mesti diwujudkan dalam tingkat-tingkat, mulai dari diri sendiri: “Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri!” (ay. 4). Jemaat diharapkan juga “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu” (ay. 2). Rasanya beban yang dimaksud adalah beban moril dan materiil. Kepada mereka yang sudah maju dan berkembang dalam hidup rohani, diharapkan “memimpin orang yang lemah ke jalan yang benar” (bdk. ay. 1). Akhirnya, Paulus memberi nasihat agar kita tidak pernah jemu-jemu berbuat baik (bdk. ay.9). Bagi siapakah nasihat ini pada akhirnya? Sebenarnya bagi semua orang yang percaya kepada Kristus, namun nyatanya ada saudara kita yang tidak mau peduli. Oleh karena itu, kita yang peduli dan berkesempatan mendengarkan Sabda Allah diharapkan memulai saja tugas “menabur benih-benih kebaikan”. Sebab kita percaya bahwa benih itu memiliki daya kekuatannya sendiri untuk bertumbuh dan berkembang.

8. Doa Umat

P Marilah kita berdoa kepada Bapa yang telah mengutus Putera- Nya agar kita bersatu dan bersaudara saling meneguhkan iman dan pelayanan kita.

P Ya Bapa, tidak mudah bagi kami untuk membangun persaudaraan dan bertumbuh di dalam iman. Kami menyadari masih banyak saudara-saudara kami yang sibuk dengan urusan mereka sendiri.

U Utuslah Roh Kudus untuk memberikan semangat kepada kami bila kami melalaikan tanggung jawab kami membina persaudaraan dan iman. Bukalah hati saudara-saudara kami untuk mau bersekutu dalam doa dan pelayanan.

P Putra-Mu Yesus mengajari kami tekun dan setia mencari dan menyelamatkan yang hilang dan tersesat, menjadi Gembala yang baik bagi siapa pun.

U Semoga kami mau dan mampu belajar daripada-Nya. Buanglah sikap acuh tak acuh serta masa bodoh dalam diri kami agar kami bersedia menjadi berkat bagi orang lain.

P Santo Paulus memberi nasehat agar kami saling membantu memikul beban kami dan membantu mereka yang lemah.

U Tuhan, semoga hati kami terbuka untuk melihat dan membantu mereka yang lemah miskin dan kekurangan. Teguhkan iman kami untuk berjumpa dengan Engkau dalam diri saudara-saudara kami.

P Kami berdoa bagi setiap orang yang telah berbuat baik dan selalu mengusahakan kebaikan bagi sesama. Berkatilah setiap usaha baik yang telah diusahakan agar semakin berbuah.

U Ajarilah kami untuk meneladan mereka dan bertekun dalam perbuatan baik kami. Jauhkanlah kami dari sikap menonjolkan diri sendiri, tetapi agar Engkau semakin dipuji dan dimulyakan.

P Marilah kita memanjatkan doa-doa dan permohonan kita ....

Marilah kita mohon:
U Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan.


P Bersama Bunda Maria yang selalu menyertai kita. Marilah kita doakan tiga kali Salam Maria.

Salam Maria …. (3X).


9. Doa Penutup (bersama-sama)

Bapa yang mahakasih, berkatilah semua pengurus lingkungan, wilayah dan paroki. Berilah mereka semangat kerasulan yang tinggi dan iman yang teguh untuk berkarya bersama dalam Gereja. Ajarilah kami selalu untuk saling bantu dan tolong menolong menanggung beban kami agar terciptalah paguyuban murid-murid-Mu yang hidup seturut kehendak-Mu. Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami. Amin


10. Membangun Niat

(Pemimpin mengajak umat membuat niat konkret, yaitu: siapa melakukan apa dan kapan dilaksanakan. Dengan demikian, Umat sungguh menghidupi Sabda Tuhan.)


11. Berkat dan Pengutusan

P Tuhan sertamu.
U Dan sertamu juga.

P Semoga persaudaraan kita dijagai dan diberkati oleh Allah yang maha kuasa: Bapa dan Putera dan Roh Kudus.
U Amin.

P Ibadat dan pertemuan kita sudah selesai.
U Syukur kepada Allah.

P Kita diutus menjadi gembala baik dalam lingkungan dan bertanggung jawab terhadap saudara-saudari kita.

U Amin.

12. Lagu Penutup

Photobucket

Renungan APP Prapaskah KAJ 2009, Pertemuan Pertama: Bertanggung Jawab Pada Keluarga

Pertemuan Pertama

BERTANGGUNG JAWAB PADA KELUARGA


1. Lagu Pembuka

2. Tanda Salib dan Salam

P Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus.
U Amin.

P Rahmat Tuhan kita Yesus Kristus, cinta kasih Allah dan persekutuan Roh Kudus selalu besertamu.
U Dan sertamu juga.


3. Pengantar


Setiap orang adalah bagian dari sebuah keluarga, entah keluarga inti, keluarga besar, maupun keluarga Allah. Sebagai anggota, masing-masing individu memiliki peran dan tanggung jawab agar hidup keluarga dapat berlangsung terus. Keluarga inti dipanggil untuk menjadi sakramen, tanda dan sarana keselamatan Allah, maka setiap anggota dipanggil untuk mewujudkan hal itu. Santo Paulus menyadari peran dan tanggung jawab masing-masing anggota keluarga dalam menciptakan komunitas basis Gerejawi. Oleh karena itu, ia memberi nasehat bagi setiap orang sesuai dengan perannya. Dalam pertemuan pertama ini kita diajak menyadari peran dan tanggung jawab sebagai anggota keluarga. Semoga kita bisa belajar dari nasehat Santo Paulus.


4. Pernyataan Tobat

P Marilah kita hening sejenak untuk memeriksa batin kita agar layak dan pantas merayakan ibadat kita. (hening sejenak)

U Ya Allahku, Engkaulah yang harus kukasihi lebih dari segala sesuatu. Aku menyesal sungguh atas dosa-dosaku. Dengan sengaja aku berbuat salah dan tidak mau berbuat baik. Aku telah berdosa terhadap Engkau. Dengan pertolongan rahmatMu, aku berniat

teguh untuk bertobat, dan tidak berdosa lagi. Berilah aku kekuatan untuk menghindari apa saja yang menjerumuskan aku kedalam dosa. Ya Allah, kasihanilah aku, orang berdosa ini. Demi Yesus Kristus, Juruselamatku, yang telah menderita sengsara dan wafat bagiku.



U Amin.

5. Doa Pembuka (bersama-sama)
Allah Bapa yang penuh kasih, Engkau mengumpulkan kami di sini supaya kami sehati dan sejiwa bersyukur sebagai anggotakeluarga-Mu. Kami masing-masing memiliki keluarga yang Kau panggil untuk melanjutkan karya ciptaan-Mu. Bukalah hati kami untuk mendengarkan sabda-Mu dan melaksanakan-Nya. Berkatilah juga saudara-saudara kami yang belum dan berhalangan hadir dalam pertemuan ini. Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami. Amin.


6. Lagu Pengantar Bacaan



7. Bacaan Kitab Suci : Tit 2 : 1-10

1 Tetapi engkau, beritakanlah apa yang sesuai dengan ajaran yang sehat: 2 Laki-laki yang tua hendaklah hidup sederhana, terhormat, bijaksana, sehat dalam iman, dalam kasih dan dalam ketekunan.3 Demikian juga perempuan-perempuan yang tua, hendaklah mereka hidup sebagai orang-orang beribadah, jangan memfitnah, jangan menjadi hamba anggur, tetapi cakap mengajarkan hal-hal yang baik 4 dan dengan demikian mendidik perempuan-perempuan muda mengasihi suami dan anak-anaknya,5 hidup bijaksana dan suci, rajin mengatur rumah tangganya, baik hati dan taat kepada suaminya, agar Firman Allah jangan dihujat orang. 6 Demikian juga orang-orang muda; nasihatilah mereka supaya mereka menguasai diri dalam segala hal 7 dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu, 8 sehat dan tidak bercela dalam pemberitaanmu sehingga lawan menjadi malu, karena tidak ada hal-hal buruk yang dapat mereka sebarkan tentang kita. 9 Hamba-hamba hendaklah taat kepada tuannya dalam segala hal dan berkenan kepada mereka, jangan membantah, 10 jangan curang, tetapi hendaklah selalu tulus dan setia, supaya dengan demikian mereka dalam segala hal memuliakan ajaran Allah, Juruselamat kita.
Demikianlah sabda Tuhan
Syukur kepada Allah.

(Perikop dibaca 3 kali: bersama-sama satu kali, dibacakan oleh salah seorang peserta, dan membaca dalam hati.)



Renungan singkat

Siapa yang suka diberi nasihat? Kebanyakan orang tidak suka diberi nasehat, bukan? Kendati banyak orang tidak suka diberi nasehat, tidak berarti bahwa nasehat itu tidak penting dan tak berguna. Setiap orang memerlukan nasihat dari orang lain, terlebih dari mereka yang lebih tua dan bijaksana. Kitab Amsal menyebutkan: Jalan orang bodoh lurus dalam anggapannya sendiri, tetapi siapa mendengarkan nasihat, ia bijak (Ams 12:15). Bahkan, Kitab Amsal menganjurkan: Dengarkanlah nasihat dan terimalah didikan, supaya engkau menjadi bijak di masa depan (Ams 19:20). Memberi nasihat dan menjalankan nasihat tersebut merupakan Tradisi umat beriman. Paulus dalam suratnya mengajar Titus tentang nasihat-nasihat yang baik bagi jemaat, agar masingmasing orang menyadari peran dan tanggungjawabnya sebagai anggota keluarga. Bahkan, Paulus masih menambahkan peran dan tanggungjawab para hamba terhadap tuan mereka. Dengan menjalankan nasihat Paulus, maka keluarga diharapkan menjadi komunitas basis yang berpusat pada Sabda Allah dan menjalankan perintah-perintah Allah sedemikian sehingga komunitas itu memuliakan Allah. Relevankah nasihat Paulus bagi kita? Apa arti nasihat tersebut? Kiranya nasihat tersebut tetap relevan dan penuh arti bagi kita. Orang tua-tua, suami dan isteri serta anak-anak memiliki peran dan tanggungjawab yang tidak kecil. Masing-masing hendaknya menjalankan hidupnya dan memberikan teladan hidup bagi yang lain. Itulah yang menjadi dasar panggilan dan perutusan sebagai murid-murid Tuhan. Seperti halnya Titus diminta menasihati jemaat, demikian pun kita diharapkan memberi nasihat dengan terlebih dahulu menghayatinya.


8. Doa Umat

P Marilah kita berdoa agar setiap anggota keluarga kita melaksanakan peran dan tanggung jawabnya:

P Bagi para lansia. Bantulah orang-orang tua agar mereka semakin hari berkembang dalam iman dan cinta, sehingga mereka berbahagia dan selalu bersyukur melihat anak cucu mereka.
U Ajarilah kami untuk selalu hormat dan berbakti kepada para orangtua, menjaga mereka di waktu sakit dan susah, sehingga mereka memberikan doa dan restunya bagi kami.

P Bagi para suami dan isteri. Semoga mereka bersatu saling mengasihi sehingga mereka dapat memberi teladan bagaimana berkorban dan menunaikan tanggungjawabnya kepada anak-anak dan keluarga.
U Semoga mereka diberi kerendahan hati dan kesabaran, terlebih bila begitu banyak masalah dan krisis melanda keluarga kami.

P Bagi anak-anak. Bantulah anak-anak kami agar mereka tekun dan setia menunaikan tugas belajar untuk masa depan. Jauhkanlah mereka dari godaan untuk mengambil jalan pintas dan bermalas-malasan.
U Semoga anak-anak kami dapat menghargai segala jerih payah orangtua mereka, sehingga mereka tekun berkarya dan berbuat baik demi keluarga dan masyarakat.

P Kita berdoa bagi mereka yang membutuhkan doa-doa kita ....

Marilah kita mohon:
U Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan.


P Bapa yang mahakasih, semoga keluarga-keluarga Kristiani hidup dalam iman, harapan dan kasih, sehingga antara angkatan tua dan angkatan muda saling memahami, saling menghargai dan bergandengan tangan di setiap generasi. Marilah kita satukan doa dan permohonan kita dengan doa yang diajarkan Kristus sendiri. Bapa kami ....

9. Doa Penutup (Doa Tanggung Jawab, PS. 145)

Allah, sumber segala sesuatu, Engkau memberikan talenta untuk kami kembangkan. Engkau memuji para hamba yang baik dan setia, yang penuh tanggung jawab memperkem-bangkan talenta yang mereka terima. Buatlah kami bersikap penuh tanggung jawab terhadap Yesus, supaya kami senantiasa ingat bahwa Ia begitu mengasihi kami, dan telah mempertaruhkan nyawa-Nya demi kami. Semoga kami selalu tanggung jawab terhadap panggilan kami sebagai orang beriman. Bantulah kami terus berusaha menjadi orang beriman yang dewasa dan sungguh terlibat dalam persekutuan jemaat, pewartaan, ibadat dan kesaksian dan pelayanan kepada masyarakat. Buatlah kami bersikap penuh tanggung jawab terhadap diri kami sendiri, supaya kami tidak menyia-nyiakan karunia yang kau berikan kepada kami. Buatlah kami bersikap penuh tanggung jawab terhadap orang tua, supaya kami selalu berusaha berbuat yang baik guna membalas kasih sayang dan pemeliharaan yang mereka lakukan terhadap kami. Semoga kami bersikap penuh tanggung jawab terhadap semua orang yang mendidik kami, supaya semua pelajaran hidup yang mereka berikan dengan tanggung jawab, kesabaran tidak kami sia-siakan.

Buatlah kami bersikap penuh tanggung jawab terhadap teman teman kami, supaya kami tidak menghianati sikap persaudaraan mereka. Buatlah kami bersikap penuh tanggung jawab terhadap masyarakat supaya kami selalu berusaha menyumbang lebih banyak daripada apa yang kami terima.

Ya Bapa, bantulah kami, supaya selalu mensyukuri apa yang sudah kami terima, dan mempergunakan dengan sebaik-baiknya apa saja yang ada pada kami demi Yesus, Tuhan kami.

10. Membangun Niat

(Pemimpin mengajak umat membuat niat konkret, yaitu: siapa melakukan apa dan kapan dilaksanakan. Dengan demikian, Umat sungguh menghidupi Sabda Tuhan.)

11. Berkat dan Pengutusan

P Tuhan bersamamu
U Dan bersama rohmu

P Semoga Allah memberkati setiap usaha kita dan mendukung setiap peran dan tanggung jawab kita.



Photobucket

terima kasih telah mengunjungi renunganpagi.id, jika Anda merasa diberkati dengan renungan ini, Anda dapat membantu kami dengan memberikan persembahan kasih. Donasi Anda dapat dikirimkan melalui QRIS klik link. Kami membutuhkan dukungan Anda untuk terus menghubungkan orang-orang dengan Kristus dan Gereja. Tuhan memberkati

renunganpagi.id 2024 -

Privacy Policy