Minggu, 30 Maret 2025
Hari Minggu Prapaskah IV
Yesus mengundang para pendosa ke meja Kerajaan Allah: "Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa" (Mrk 2:17) Bdk. 1 Tim 1:15.. Ia mengajak mereka supaya bertobat, karena tanpa tobat orang tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan. Tetapi Ia menunjukkan kepada mereka perkataan dan perbuatan belas kasihan Bapa yang tidak terbatas Bdk. Luk 15:11- 32. dan "kegembiraan" yang luar biasa, yang "akan ada di surga, karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih daripada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan" (Luk 15:7). Bukti cinta-Nya yang terbesar ialah penyerahan kehidupan-Nya "untuk pengampunan dosa" (Mat 26:28). 1443, 588, 1846, (Katekismus Gereja Katolik, 545)
Antifon Pembuka (Yes 66:10-11)
Bersukacitalah bersama Yerusalem, dan berhimpunlah, kamu semua yang mencintainya; bergembiralah dengan sukacita, hai kamu yang dulu berdukacita, agar kamu bersorak-sorai dan dipuaskan dengan kelimpahan penghiburanmu.
Lætare Ierusalem: et conventum facite omnes qui diligitis eam: gaudete cum lætitia, qui in tristitia fuistis: ut exsultetis, et satiemini ab uberibus consolationis vestræ.
Credit: Tinnakorn Jorruang/istock.com |
Pengantar
Hari Minggu Prapaskah IV sering
disebut Minggu LAETARE (bdk. Minggu III Adven = Minggu GAUDETE). Itu
artinya kita sudah berada pada SEPARUH pertama dari masa Prapaskah.
Seruan itu digemakan dalam Antifon Pembuka misa: “Bersukacitalah bersama
Yerusalem, dan bersorak sorailah karenanya, hai semua para pencintanya.
Bergiranglah riang ria bersama dia, kalian yang dulu berkabung
karena-Nya.” Oleh karena itu warna Liturgi sedikit berubah dari ungu
menjadi rose / merah muda, yang melambangkan pengharapan dan sukacita
antisipasi perayaan Paskah.
Pengalaman sukacita itu pun dapat kita
lihat dalam perjumpaan Tuhan Yesus dengan orang yang buta. Dalam Injil
tahun A dikisahkan tentang orang yang buta sejak lahir. Dalam tradisi Yahudi,
dosa bisa menjadikan seseorang itu mendapatkan kebutuan sejak lahir. Hal
ini pula yang membuat para murid Yesus mempertanyakan siapa yang telah
berdosa sehingga orang ini dilahirkan demikian. Tuhan Yesus membongkar
pemikiran mereka. Keadaan orang itu bukanlah terjadi akibat dosa. Tetapi
melalui keadaan orang itu sukacita dari Allah dinyatakan. Ia membawa
terang baginya. Bagi orang buta itu, suka cita terbesar yang ia rasakan
adalah bahwa ia dapat melihat. Itulah yang Tuhan Yesus berikan
kepadanya. Pengalaman demikian pun dirasakan oleh Daud. Bukan karena
paras yang indah dan bukan pula karena badan yang kekar yang dipilih
Tuhan. Bukan pula karena keundahan yang ditampilkan mata mausia yang
dipilih Allah. Tetapi Tuhan Allah memilih Daud karena hatinya. Hati yang
selalu rindu akan Tuhan. Hati yang selalu terarah pada cinta kasih
Allah. Itulah iman dari Daud. Iman itulah yang membuatnya dipilih oleh
Allah menjadi raja. Iman itu pula yang membawa sukacita besar bagi Daud.
Ya Allah, dengan pengantaraan Sabda-Mu Engkau telah memulihkan hubungan damai dengan umat manusia secara mengagumkan. Kami mohon, berilah agar umat kristiani, dengan cinta bakti yang penuh semangat dan iman yang hidup, bergegas menyongsong hari-hari raya yang akan datang. Dengan pengantaraan Tuhan kami, Yesus Kristus, Putra-Mu, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dalam persatuan Roh Kudus, Allah, sepanjang segala masa. Amin.
TAHUN C
Bacaan Injil tentang perempuan Samaria,
orang yang lahir buta dan pembangkitan Lazarus, yang disediakan untuk
Minggu Prapaskah ke-3, ke-4, dan ke-5
, juga dapat dibawakan pada
Tahun B dan C, karena amat bermakna bagi inisiasi ke dalam Gereja,
terutama di mana ada pelamar baptis. (Surat Edaran Perayaan Paskah dan
persiapannya, Kongregasi Ibadat Ilahi, 16 Januari 1988 No. 24).
Bacaan dari Kitab Yosua (5:9a.10-12)
"Umat Allah memasuki tanah yang dijanjikan, dan merayakan Paskah."
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.